DAMPAK COVID-19 TERHADAP MAHASISWA

Oleh : Hj. Demina, M. Pd, Firman, M.Pd, Widiya, Wildatul Husna

(Mahasiswi dan Dosen IAIN Batusangkar)

Perubahan bentuk pembelajaran secara tatap muka menjadi pembelajaran online Sejak merabaknya wabah Covid-19 di Indonesia, banyak usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk menekan penyebarannya. Salah satunya adalah dengan mempromosikan gerakan social distancing untuk meminimalisir kontak fisik yang berpotensi menyebarkan virus Corona dari satu individu ke individu lainnya.

Perubahan pola perilaku tidak hanya sebatas pada aspek sosial tetapi juga terjadi di dunia pendidikan, termasuk pada proses pembelajaran di perguruan tinggi. Tuntutan untuk melaksanakan gerakan social distancing serta adanya kebijakan work from home mengharuskan dosen untuk merancang pembelajaran yang dapat diikuti mahasiswa dari rumah masing-masing.

Pragholapati, A. (2020).menjelaskan bahwa untuk menghentikan penyebaran Covid-19 WHO menganjurkan untuk menghentikan kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerumunan massa, untuk itu pembelajaran konvensional yang mengumpulkan banyak mahasiswa dalam satu kelas tertutup harus ditinjau ulang pelaksanaannya.

Menyikapi hal di atas, banyak dosen yang akhirnya mengubah mode pembelajarannya dari pembelajaran konvensional dalam ruang kelas menjadi pembelajaran online yang dapat diikuti mahasiswa dari mana saja. Pembelajaran online ini dilaksanakan baik secara sinkron maupun asinkron menggunakan layanan web maupun aplikasi pembelajaran. Pembelajaran secara sinkron dilakukan melalui konferensi video. Melalui pembelajaran ini dosen dan mahasiswa bertemu dan berkomunikasi secara real time menggunakan applikasi Zoom atau Google Meet.

Sementara itu, pembelajaran secara asinkron dilakukan menggunakan applikasi seperti Google Classroom, Edmodo, WhatsApp dan Email. Dosen mengunggah konten pembelajaran seperti bahan bacaan, video pembelajaran ataupun tautan materi yang tersedia di web ke applikasi pembelajaran yang digunakan. Mahasiswa dapat memberikan tanggapan atau pertanyaan melalui fitur chat yang disediakan ataupun menggunakan WhatsApp.

 

Dampak positif dari covid-19

Meningkatkan Penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran.

Adanya Pandemi Covid-19 ini seolah memaksa dunia pendidikan untuk beralih dari sistem pembelajaran tradisional ke sistem pembelajaran yang lebih modern. Pelaksanaan pembelajaran online menuntut dosen dan mahasiswa untuk memiliki keterampilan menggunakan gawai seperti laptop dan telepon pintar dalam pembelajaran. Mereka juga dituntut untuk terampil dalam memilih dan menggunakan informasi di internet yang relevan dengan materi yang dibahas.Jika selama ini dosen hanya mengandalkan proyektor dan slide power point dalam mengajar, maka dalam masa Pandemi Covid-19 dosen harus menggunakan media-media pembelajaran lain yang sesuai dengan konteks pembelajaran online.

Dosen harus mampu menggunakan berbagai Learning Management System (LMS) yang dapat dengan baik menyampaikan materi ke mahasiswa, serta merancang metode asesmen yang dapat mengukur hasil belajar mahasiswa dalam lingkugan pembelajaran online.Di sisi lain, mahasiswa juga dituntut mampu memanfaatkan gawai yang mereka miliki untuk pembelajaran. Jika selama ini mereka menggunakan telepon pintar hanya untuk keperluan komunikasi dan hiburan, maka selama masa pandemi Covid-19 mahasiswa harus mampu menggunakan telepon pintar mereka untuk keperluan pembelajaran, misalanya berkomunikasi dengan dosen maupun mengirimkan tugas melalui applikasi surat eletronik dan applikasi pesan instan seperti WhatsApp. Mereka juga harus bisa memanfaatkan telepon pintarnya untuk mengikuti kelas-kelas virtual yang dapat diakses melalui applikasi pembelajaran online.

Pembelajaran selama masa pandemi Covid-19 mengurangi penggunaan media pembelajaran konvensional dan memaksimalkan penggunaan gawai-gawai yang berteknologi lebih maju. Baik dosen maupun mahasiswa dapat memanfaatkan telepon pintar maupun laptop dengan koneksi internet dalam proses pembelajaran.

Meningkatkan Kemandirian Belajar Mahasiswa

Sebelum pandemi Covid-19 ketika pembelajaran masih dilakukan secara tatap muka di dalam kelas tradisional, mahasiswa memiliki kecenderungan untuk belajar sesuai dengan arahan dosen. Mereka belajar hanya pada jam kuliah atau ketika ada tugas tambahan atau praktikum. Pembelajaran yang bersifat teacher centered membuat mahasiswa enggan untuk mengeksplorasi sumber belajar lain dan hanya bergantung pada bahan ajar yang diberikan dosen.

Ahmed, A. K., & Ain, A. (2013). menyatakan bahwa dalam kelas tradisional terutama yang bersifat teacher centered mahasiswa menjadi pembelajar pasif yang hanya menerima informasi dan pengetahuan dari dosen. Pembelajaran ini dinilai menghambat pertumbuhan akademik mahasiswa. Jika pembelajaran ini tidak dirubah, maka mahasiswa akan semakin bosan dan tidak memiliki motivasi belajar sehingga pada akhirnya justru membuat dosen stress.

Dole, S., Bloom, L., & Kowalske, K. (2015). Pelaksanaan pembelajaran online selama masa darurat Covid-19 mengubah proses belajar secara keseluruhan. Untuk mencegah penyebaran Covid-19 di lingkungan kampus, maka aktivitas akademik di lingkungan kampus dihentikan. Untuk itu dosen melaksanakan pembelajaran secara online agar mahasiswa tetap dapat mengikuti perkuliahan secara daring dari rumah masing-masing. Secara tidak terduga, pelaksanaan pembelajaran online justru memiliki dampak  positif terhadap kemandirian belajar mahasiswa. Ketidakhadiran dosen secara fisik dalam pembelajaran membuat komunikasi antara dosen dan mahasiswa terbatas.

Penjelasan dosen melalui kelas-kelas virtual dianggap tidak cukup sehingga mahasiswa berinisiatif mencari dan menggunakan referensi lain untuk menunjang pemahaman mereka mengenai materi yang dikuliahkan. Pembelajaran online secara asinkron yang dilakukan oleh dosen mendorong mahasiswa untuk lebih aktif dalam belajar. Keingingan untuk memahami bahan ajar yang dibagikan oleh dosen melalui applikasi pembelajaran atau applikasi pesan instan membuat mahasiswa secara aktif membaca, berdiksusi dengan teman sebaya, atau bertanya langsung kepada dosen. Fleksibilitas waktu pembelajaran secara online memungkinkan mahasiswa untuk mengatur sendiri pembelajarannya. Dalam pembelajaran online, dosen biasanya mengunggah materi disertai tugas dan menetapkan batas waktu pengumpulan tugas tersebut. Hal ini menjadi acuan bagi mahasiswa untuk secara mandiri merencanakan waktu untuk belajar dan waktu untuk mengerjakan tugas.

Dampak negative dari covid-19

Perkuliahan daring ini tidak sepenuhnya disambut baik oleh para mahasiswa karena ada sebagian mahasiswa yang menganggap pembelajaran daring ini lebih menyulitkan dibandingkan dengan pembelajaran seperti biasanya atau secara tatap muka. Tidak sedikit dari kaum mahasiswa yang mengeluhkan pembelajaran jarak jauh ini. Sisi negatif yang cukup banyak dirasakan pada pandemi kali ini, yaitu kuota internet harus tersedia dan jaringan merupakan kendala terbesar yang dialami mahasiswa, ketersediaan perangkat pembelajaran yang memadai seperti laptop ataupun handphone, tingkat keseriusan mahasiswa saat pembelajaran dirasa lebih baik jika melakukan kuliah tatap muka, tidak semua dosen dan mahasiswa siap mengoperasikan sistem pembelajaran daring dengan benar dan cepat, dan juga terkadang ada juga dosen yang hanya memberikan materi dan tugas tanpa menjelaskan kepada mahasiswa sehingga hal tersebut kurang efisien dan materi juga sulit dipahami secara optimal.

Selain itu, hal ini semakin lama menimbulkan berbagai dampak yang semakin serius terutama pada pola perilaku bahkan hingga pada aspek kejiwaan mahasiswa. Jadi, pola perilaku sendiri merupakan bentuk-bentuk perbuatan atau perilaku yang menghasilkan suatu kebiasaan karena telah dilakukan berulang kali. Perubahan pola perilaku ini, memberikan permasalahan yang dirasa cukup mengganggu kehidupan para mahasiswa. Dari aspek psikologis yang tentunya memengaruhi kejiwaan mahasiswa akibat perubahan sistem pembelajaran yang tadinya secara tatap muka beralih menjadi sistem daring. Ketidaksiapan diri menuntut mahasiswa untuk mau tidak mau mengikutinya. Hal ini mengharuskan mahasiswa untuk beradaptasi menghadapi kebiasaan baru yang memungkinkan munculnya rasa jenuh, tekanan, bahkan stres. Pada titik inilah mereka mencari “pelarian” untuk menghilangkan rasa jenuh, tekanan, dan stresnya dengan bermain media sosial. Hal itu jika dilakukan secara berulang dan terus-menerus, justru membuat mereka kembali pada titik jenuh dan stres yang mungkin semakin berkepanjangan.

Mental mahasiswa yang menjadi korbannya

Di masa pandemi ini, tentunya membuat semua orang menjadi stress akibat banyak nya perubahan yang terjadi. Salah satu nya adalah mahasiswa. Mahasiswa yang awalnya berkuliah secara bertatap muka bersama temanteman dan juga dosen harus melakukan perkuliahan secara online. Perkuliahan online ini dianggap tidak efektif karena fokus kita terbagi menjadi beberapa hal yaitu kuliah dan juga pekerjaan rumah sehingga kuliah online menjadi tidak fokus, mahasiswa juga tidak memahami materi yang diberikan dosen secara maksimal karena fokusnya terbagi. Tugas-tugas juga mungkin diberikan lebih banyak karena kita secara online dan juga beban terasa lebih banyak sehingga membuat mahasiswa menjadi stress. Lalu untuk mahasiswa baru juga harus beradaptasi dengan kondisi seperti yang seharusnya mereka mengawali masa perkuliahan ini dengan tatap muka secara langsung tetapi harus dilaksanakan secara online saja. Perkuliahan juga membaut kaget karena sangat berbeda dengan yang dilakukan saat di sekolah di tambah dengan masa pandemi ini mungkin dapat membuat mahasiswa baru menjadi stress juga.

Sulitnya mencari pekerjaan untuk mahasiswa yang baru lulus

Tidak hanya berdampak pada mahasiswa yang sedang menjalani perkuliahan saja, tapi masa pandemi sekarang juga berdampak pada mahasiswa yang baru saja lulus dari bangku perkuliahan/fresh graduate. Karena banyaknya lapangan pekerjaan sekarang yang ditutup, para pekerja juga di PHK, membuat semakin banyaknya lulusan-lulusan yang tidak bekerja. Mau tidak mau untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seorang mahasiswa yang baru saja lulus di masa pandemi seperti sekarang pasti banyak berpikir untuk membuka usaha sendiriagar dapat bertahan hidup walaupun keuntungan dari usaha yang dijalankan masih belum tahu seperti apa dikarenakan masa pandemi ini. Selain dampak negatif yang dirasakan oleh mahasiswa-mahasiswa, tentunya juga ada dampak positif yang dapat dirasakan oleh mahasiswa.

About the author: editor

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *