
“Jika guru hanya mengajarkan apa yang bisa dicari di Google, maka guru itu tidak diperlukan. Tetapi jika guru mengajarkan bagaimana berpikir, merasakan, dan menjadi manusia maka tidak ada teknologi yang bisa menggantikannya.”
Suatu pagi di kelas XI MIPA, seorang siswa mengangkat tangan bukan untuk bertanya kepada gurunya, melainkan untuk menunjukkan layar ponselnya. Di sana, sebuah aplikasi kecerdasan buatan telah menjawab soal biologi tentang siklus sel dengan penjelasan yang runtut, dilengkapi diagram, dan tersaji dalam hitungan detik. Siswa itu tersenyum puas. Gurunya? Terdiam sejenak.
Itulah gambaran nyata yang kini hadir di ribuan ruang kelas Indonesia termasuk di sekolah-sekolah kota kecil seperti Sungai Penuh, Kerinci. Artificial Intelligence (AI) bukan lagi wacana futuristik. Ia sudah ada di dalam genggaman siswa kita, memasuki ruang kelas tanpa diundang, tanpa permisi, dan tanpa peta jalan yang jelas bagi para pendidiknya.
Pertanyaan yang kemudian bergolak bukan lagi apakah AI akan masuk kelas? karena jawabannya sudah terlanjur: ya, ia sudah ada di sana. Pertanyaan yang sesungguhnya mendesak untuk dijawab adalah: ke mana guru harus bergerak dari titik ini?
AI Bukan Ancaman Ia Adalah Cermin
Banyak guru merespons kehadiran AI dengan kecemasan yang lumrah: takut digantikan, takut tidak relevan, takut kehilangan otoritas di depan kelas. Kecemasan ini manusiawi, namun tidak produktif jika dibiarkan menjadi hambatan refleksi.
AI seperti ChatGPT, Gemini, atau Copilot memang mampu menjawab soal hafalan dengan presisi tinggi. Ia bisa merangkum buku teks, membuat rangkuman materi, bahkan menyusun esai dalam gaya tertentu. Jika kemampuan itulah yang selama ini kita andalkan sebagai guru menyampaikan informasi dan menilai hafalan maka memang benar: AI adalah ancaman.
Namun justru di sinilah letak nilai cerminnya. Kehadiran AI memaksa kita sebagai guru untuk jujur bertanya: selama ini, apakah kita benar-benar mengajar, atau sekadar menyampaikan informasi? Apakah kita membangun kompetensi, atau sekadar mengejar target kurikulum? Apakah kita mendidik manusia, atau mencetak mesin penjawab soal?
Sebagai guru biologi di SMA Negeri 2 Sungai Penuh dengan sistem full day school, saya menyaksikan sendiri bagaimana beban akademik yang panjang delapan jam di sekolah kerap membuat pembelajaran menjadi rutinitas mekanis: catat, hafalkan, kerjakan soal, ulangan. Dalam ritme seperti itu, AI bisa lebih cepat dan lebih sabar daripada manusia. Maka pertanyaannya kembali bukan soal teknologi, melainkan soal hakikat pendidikan itu sendiri.
Redefinisi Peran: Dari Penyampai ke Pemandu Makna
Perdebatan tentang relevansi guru di era AI sering kali terjebak pada dikotomi yang salah: guru versus teknologi. Padahal, framing yang lebih tepat adalah: guru bersama teknologi untuk murid. Persoalannya bukan soal kalah atau menang, melainkan soal transformasi peran.
Dalam teori manajemen pendidikan yang menjadi landasan kajian di program S2 Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dikenal konsep peran guru sebagai manajer pembelajaran. Seorang manajer yang baik tidak harus mengerjakan semua hal sendiri; ia harus tahu mendelegasikan tugas kepada sumber daya yang tepat, termasuk kepada teknologi, sambil tetap memegang kendali atas tujuan, nilai, dan arah.
Maka peran guru hari ini perlu bergeser dari information deliverer (penyampai informasi) menjadi meaning maker (pemandu makna). Jika AI bisa memberikan data tentang fotosintesis dalam satu klik, tugas guru adalah membantu siswa memahami mengapa fotosintesis itu penting bagi kehidupan mereka, apa konsekuensinya jika proses itu terganggu, dan bagaimana ilmu itu terhubung dengan krisis iklim yang sedang kita hadapi bersama. Itulah wilayah yang tidak bisa dijamah oleh algoritma manapun.
Lebih jauh, guru adalah satu-satunya unsur dalam ekosistem pembelajaran yang mampu membangun relasi emosional dengan murid. Guru bisa menangkap kegelisahan di balik tatapan diam seorang siswa. Guru bisa merasakan semangat yang hampir padam dan menyalakannya kembali dengan satu kalimat yang tepat di waktu yang tepat. Guru hadir sebagai manusia dan justru itu yang menjadi kekuatan terbesar yang tidak bisa direplikasi oleh AI.
Bahaya Nyata: Literasi AI yang Timpang
Satu hal yang kerap luput dari diskursus tentang AI di kelas adalah ketimpangan literasi. Di kota besar dengan infrastruktur digital yang matang, guru dan siswa perlahan mulai beradaptasi dengan AI secara terbimbing. Namun di kota-kota kecil seperti Sungai Penuh, situasinya jauh berbeda.
Di sini, AI masuk bukan melalui program literasi digital yang terencana, melainkan melalui ponsel siswa secara liar dan tak terkontrol. Tidak ada panduan penggunaan. Tidak ada diskusi tentang etika. Tidak ada pembekalan tentang bagaimana memverifikasi kebenaran informasi yang dihasilkan AI. Akibatnya, alih-alih menjadi alat belajar, AI justru menjadi jalan pintas menuju kemalasan berpikir.
Inilah bahaya sesungguhnya: bukan bahwa AI menggantikan guru, melainkan bahwa siswa menggunakan AI tanpa guru. Ketika seorang siswa menyalin jawaban dari ChatGPT tanpa memahaminya, yang hilang bukan hanya nilai akademik yang hilang adalah proses berpikir itu sendiri. Dan proses berpikir adalah inti dari pendidikan.
Sebagai guru biologi, saya pernah mendapati laporan praktikum yang ditulis dengan sempurna secara tata bahasa, namun sama sekali tidak mencerminkan pengalaman siswa di laboratorium. Ketika ditanya, siswa mengaku meminta AI untuk menuliskannya. Laporan itu rapi namun kosong dari makna. Itulah paradoks yang sedang kita hadapi: keindahan tanpa substansi, kecepatan tanpa pemahaman.
Apa yang Harus Dilakukan Guru?
Menyikapi realitas ini, ada tiga langkah strategis yang perlu diambil oleh guru bukan sebagai respons panik, melainkan sebagai sikap profesional yang reflektif.
Pertama, jadilah guru yang melek AI, bukan guru yang menghindari AI. Kita tidak bisa melarang siswa menggunakan teknologi yang sudah ada di tangan mereka. Yang bisa kita lakukan adalah memahami cara kerja AI agar kita bisa membimbing siswa menggunakannya secara kritis dan bertanggung jawab. Guru yang tidak pernah mencoba AI tidak akan bisa menjelaskan kelemahan dan batas-batasnya kepada siswa.
Kedua, rancang pembelajaran yang tidak bisa dijawab oleh AI sendirian. Tugas berbasis pengalaman langsung, diskusi socratic, proyek kolaboratif berbasis konteks lokal, atau penilaian yang melibatkan proses refleksi diri adalah bentuk-bentuk pembelajaran yang menempatkan manusia guru dan siswa sebagai aktor utama yang tidak tergantikan. Di sinilah kreativitas pedagogis guru diuji.
Ketiga, bangun budaya kelas yang menghargai proses berpikir, bukan hanya hasil akhir. Ketika siswa tahu bahwa gurunya peduli pada bagaimana mereka berpikir bukan hanya pada jawaban benar atau salah mereka akan lebih jujur dan lebih berani berproses. Dan kejujuran serta keberanian berpikir adalah dua hal yang tidak akan pernah bisa diprogram ke dalam AI manapun.
Tanggung Jawab Institusi dan Kebijakan
Semua yang telah diuraikan di atas tidak akan bisa terwujud jika guru dibiarkan berjuang sendiri. Transformasi peran guru di era AI adalah agenda institusional, bukan agenda individual. Kepala sekolah, dinas pendidikan, dan para pengambil kebijakan memiliki tanggung jawab yang tidak kalah besar.
Sekolah perlu menyediakan ruang bagi guru untuk belajar, bereksperimen, dan bahkan gagal dengan aman dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran. Dinas pendidikan perlu merancang pelatihan yang relevan bukan sekadar pelatihan aplikasi, melainkan pelatihan pedagogi berbasis teknologi yang berpusat pada siswa. Dan pemerintah pusat perlu segera merumuskan kebijakan literasi AI yang inklusif, yang tidak hanya berlaku di kota besar tetapi juga menjangkau sekolah-sekolah di pelosok seperti Kerinci.
Dalam konteks manajemen pendidikan Islam, nilai-nilai khalifatullah fil ardh kepemimpinan yang bertanggung jawab di muka bumi seharusnya menjadi ruh yang menggerakkan setiap kebijakan pendidikan. Teknologi adalah amanah; penggunaannya harus membawa kemaslahatan, bukan ketimpangan.
Penutup: Guru yang Tidak Tergantikan
AI akan terus berkembang. Kemampuannya akan melampaui batas-batas yang hari ini kita bayangkan. Namun ada satu hal yang tidak akan pernah berubah: manusia membutuhkan manusia lain untuk tumbuh. Siswa membutuhkan guru bukan hanya untuk mendapatkan ilmu, melainkan untuk menemukan dirinya.
Guru yang sejati bukan ia yang tahu segalanya, melainkan ia yang mampu memantik rasa ingin tahu, memupuk keberanian berpikir, dan menemani siswa melewati keragu-raguan menuju keyakinan yang utuh. Itu adalah pekerjaan manusiawi yang paling mulia dan tidak ada algoritma yang mampu melakukannya.
Maka pertanyaan AI masuk kelas, guru mau ke mana?’ sesungguhnya memiliki jawaban yang tegas: guru harus bergerak ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh mesin ke dalam hati, pikiran, dan jiwa setiap siswa yang sedang tumbuh menjadi manusia. Di situlah guru selamanya relevan.
Dan di kota kecil bernama Sungai Penuh, di antara deretan kelas-kelas yang penuh dengan siswa yang cerdas namun butuh ditemani tugas itu terasa lebih nyata dari sekadar wacana akademik.
Penulis adalah Guru Biologi di SMA Negeri 2 Sungai Penuh, Kerinci, dengan sistem pembelajaran Full Day School. Saat ini menempuh studi S2 Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) di IAIN Kerinci. Opini ini disusun sebagai prasyarat simposium akademik mahasiswa S2.
Opini Pendidikan | Prasyarat Simposium S2 MPI IAIN Kerinci
Oleh: Guru Biologi SMAN 2 Sungai Penuh | Mahasiswa S2 MPI IAIN Kerinci












