Berita  

“Doktor Harus Menjadi Mufakkir, Bukan Sekadar Peneliti”, Prof. Sahiron Motivasi Mahasiswa S3 UIN Mahmud Yunus Batusangkar

Batusangkar — “Program doktor tidak hanya melahirkan peneliti, tetapi harus melahirkan mufakkir, yaitu para pemikir yang mampu menghasilkan gagasan besar bagi kemajuan umat, bangsa, dan peradaban.” Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Phil. Sahiron, M.A., Ph.D., saat memberikan kuliah umum dan motivasi akademik kepada mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar, kamis (6/8/2026).

Kuliah umum yang berlangsung di Gedung Kuliah Terpadu (GKT) Kampus II tersebut menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa doktoral untuk memahami peran strategis pendidikan tinggi Islam dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Dalam paparannya, Prof. Sahiron menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam membangun generasi yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tanpa kehilangan jati diri sebagai masyarakat yang religius.

Menurutnya, cita-cita Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2045 tidak hanya diukur dari kemajuan ekonomi dan teknologi, tetapi juga dari lahirnya masyarakat yang dewasa dalam kehidupan beragama, mampu menghargai perbedaan, saling menghormati, serta mengedepankan etika dalam membangun kehidupan berbangsa.

“Kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan kematangan karakter. Kita membutuhkan masyarakat religius yang tidak mudah saling menyalahkan, tetapi mampu membangun kolaborasi, menghargai keberagaman, dan menjadikan nilai-nilai agama sebagai fondasi dalam kehidupan,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Sahiron juga mengajak UIN Mahmud Yunus Batusangkar untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan global melalui penguatan budaya akademik, peningkatan kualitas riset, serta pengembangan ilmu pengetahuan yang mampu memberikan kontribusi di tingkat internasional.

“Tugas utama perguruan tinggi bukan sekadar mengajarkan ilmu, tetapi mengembangkan ilmu pengetahuan. Hasil penelitian dosen dan mahasiswa harus memiliki dampak yang lebih luas, dipublikasikan secara internasional, dan menjadi rujukan dalam pengembangan keilmuan di tingkat global,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa mahasiswa Program Doktor harus memiliki keberanian untuk melahirkan gagasan-gagasan baru yang orisinal melalui penelitian yang mendalam. Seorang doktor, menurutnya, harus mampu menjadi agen perubahan yang menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat melalui karya ilmiah yang berkualitas.

“Jangan puas hanya menjadi peneliti. Jadilah mufakkir yang mampu melahirkan pemikiran-pemikiran besar, memperkaya khazanah keilmuan Islam, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia akademik,” pesannya di hadapan mahasiswa doktoral.

Kuliah umum tersebut berlangsung interaktif dan mendapat sambutan antusias dari para mahasiswa Program Doktor Studi Islam. Berbagai pertanyaan mengenai pengembangan riset, publikasi ilmiah bereputasi internasional, hingga tantangan pendidikan tinggi Islam di era global menjadi bagian dari diskusi akademik yang memperkaya wawasan peserta.

Melalui kegiatan ini, UIN Mahmud Yunus Batusangkar kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan tokoh-tokoh akademik nasional untuk memperkuat kualitas pendidikan doktoral. Penguatan budaya riset, internasionalisasi akademik, serta lahirnya para pemikir (mufakkir) menjadi bagian dari strategi universitas dalam membangun pendidikan tinggi Islam yang unggul, inovatif, dan berdaya saing global menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045 (hospiburda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *