Yogyakarta — Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) resmi memasuki babak baru dengan ditandai peresmian Politeknik Agraria STPN yang dirangkaikan dengan pelaksanaan wisuda hari ini, Sabtu (5/9/2026), di Yogyakarta. Momentum tersebut menjadi tonggak penting dalam transformasi kelembagaan sekaligus penguatan peran pendidikan tinggi vokasi di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang.
Kegiatan ini dihadiri Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, Wakil Menteri ATR/Wakil Kepala BPN, jajaran pejabat pimpinan tinggi Kementerian ATR/BPN, para Kepala Kantor Wilayah BPN seluruh Indonesia, perwakilan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dan sejumlah pemerintah daerah mitra, pimpinan perguruan tinggi kementerian dan lembaga di DIY, serta orang tua dan wali wisudawan.
Perubahan bentuk kelembagaan dari STPN menjadi Politeknik Agraria STPN merupakan hasil dari proses dan perjuangan panjang seluruh sivitas akademika. Transformasi ini sekaligus menjadi wujud komitmen untuk memperkuat pengembangan keilmuan dan kompetensi di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang, serta memenuhi amanat Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2022.
Seiring dengan transformasi tersebut, Politeknik Agraria STPN membuka tiga program studi baru pada jenjang Sarjana Terapan, yaitu Program Studi Manajemen Penataan Ruang dan Pertanahan (MPRP), Program Studi Survei Pemetaan dan Informasi Pertanahan (SPIP), serta Program Studi Kebijakan dan Manajemen Pendaftaran Tanah (KMPT). Kehadiran ketiga program studi tersebut memperluas ruang pengembangan kompetensi vokasional sekaligus menjawab kebutuhan sumber daya manusia yang profesional di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang.
Peresmian Politeknik Agraria STPN yang dirangkaikan dengan wisuda perdana menjadi momentum penting dalam menandai dimulainya babak baru penyelenggaraan pendidikan tinggi vokasi. Melalui transformasi ini, Politeknik Agraria STPN diharapkan semakin mampu menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, kompeten, dan profesional untuk mendukung pembangunan serta pelayanan di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang.
Pada momentum wisuda, sebanyak 568 wisudawan dikukuhkan. Dari jumlah tersebut, 403 wisudawan telah lulus ujian kompetensi sebagai Surveyor Kadastral Muda yang diselenggarakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Survei Pemetaan ISI, LSP Geomatika, dan LSP Kadaster Indonesia. Selain itu, 35 wisudawan telah memiliki sertifikasi Pilot Drone, sementara 390 wisudawan dinyatakan lulus ujian lisensi bidang kadastral di Kementerian ATR/BPN.
Beragam capaian tersebut menjadi gambaran kesiapan lulusan STPN untuk memasuki dunia profesional dengan bekal kompetensi yang relevan. Tidak hanya dalam penguasaan keilmuan dan keterampilan teknis, para lulusan juga didorong untuk menghadirkan inovasi yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Salah satunya ditunjukkan oleh wisudawan Teuku Mirza Mauluddin yang berhasil merancang aplikasi pengelolaan tanah wakaf bernama “SI-TAWAF”. Aplikasi tersebut kemudian diimplementasikan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bojonegoro untuk mendukung pendataan dan pengelolaan tanah wakaf. Ke depan, aplikasi ini diharapkan dapat diduplikasi oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) untuk mendukung pendataan tanah wakaf di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Peresmian Politeknik Agraria STPN dan wisuda perdana menjadi penanda bahwa transformasi bukan sekadar perubahan nama dan kelembagaan, melainkan langkah untuk membangun pendidikan vokasi agraria yang semakin adaptif terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat. Dengan semangat baru tersebut, Politeknik Agraria STPN melanjutkan langkah untuk mencetak sumber daya manusia yang mampu berkontribusi dalam mewujudkan tata kelola agraria, pertanahan, dan tata ruang yang profesional serta berorientasi pada kepentingan masyarakat.












